Crack Depth dan Crack Width
  • sales@alatuji.com

     

  • 021 8690 6777
    021 8690 6770
  • 0812 9595 7914 (Mr. Parmin)

Crack depth dan crack width sebagai pengukur keretakan beton

Selasa, 9 Juni 2026

Dalam dunia industri, terutama pada Teknik sipil banyak mengalami perkembangan baik dari sisi ilmu pengetahuan maupun perkembangan bisnis. Bila membicarakan Teknik sipil engineering tidak terlepas dari pembangunan baik jalan, gedung, jembatan, maupun  pembangunan lainnya. Erat kaitannya dalam pembangunan adalah material beton, Beton sendiri mempunyai sifat yang kuat dan keras sehingga sering digunakan sebagai bahan dalam pembuatan bangunan-bangunan. Secara harfiah beton bisa diartikan sebagai salah satu bahan material dalam pembuatan bangunan teknik sipil yang merupakan campuran monolit dari kerikil, pasir, semen dan air. Seperti kita ketahui Beton memiliki permasalahan dalam aplikasi yang sering ditemukan sehari hari, masalah tersebut adalah keretakan beton atau dalam bahasa tekniknya Crack ada beberapa jenis keretakan dalam beton yang dapat diukur yaitu Crack Depth (kedalaman keretakan) dan Crack Width (Lebar keretakan).

Hal pertama yang menjadi pertimbangan mengapa beton menjadi bahan dominan dalam pembuatan suatu bangunan sipil adalah beton memiliki durability atau tingkat keawetan yang tinggi dibandingkan bahan material lain. Dan dalam segi pemeliharaan dan perbaikan beton juga lebih unggul dari bahan material lain, Namun seperti yang saya sampaikan sebelumnya keretakan beton ternyata mempengaruhi tingkat kekuatan beton itu sendiri ada beberapa hal yang mempengaruhi crack depth dan crack width pada beton yaitu  

A. Penyebab  crack depth dan crack width Yang Terjadi Saat Pembuatan Beton.

1. Sifat dari beton itu sendiri

Untuk melihat bagaimana sifat dari beton yang dapat menimbulkan crack depth dan crack width  kita harus melihat proses dari awal pembuatan beton itu sendiri. Pada saat awal pembuatan beton dengan pencampuran bahan penyusunnya seperti kerikil, pasir, air dan semen, dan dalam proses pengerasannya beton akan mengalami pengurangan volume dari volume awal. Ini disebabkan karena air yang terkandung pada campuran beton akan mengalami penguapan sehingga mengurangi volume beton. Apabila pada kondisi saat beton mengalami penyusutan ada suatu tahanan maka retakan pun tidak dapat dihindari. 

2. Suhu 

Ternyata suhu tidak dapat diabaikan juga, Suhu dapat menyebabkan crack depth dan crack width pada beton. Maksud suhu disini adalah suhu campuran beton saat mengalami perkerasan. Karena pada saat campuran beton mengalami perkerasaan suhu yang timbul akibat reaksi dari air dengan semen akan terus meningkat. Sehingga pada saat suhu campuran beton ini terlalu tinggi, pada saat beton sudah keras sering timbul retak – retak pada permukaan beton.

3. Korosi pada tulangan

Sebenarnya untuk mengantisipasi retakan yang terjadi akibat dari sifat beton itu sendiri, beton diberi tulangan pada bagian dalamnya yang terbuat dari baja. Sehingga diharapkan dengan adanya tulangan tersebut retakan akibat dari sifat beton disebar pada keseluruhan beton menjadi bagian – bagian yang sangat kecil sehingga retakan tersebut dapat diabaikan. Tetapi apabila tulangan yang dipakai pada saat pembuatan beton sudah meengalami korosi, tulangan tersebut itu pun akan menyebabkan retakan pada saat beton mengeras, dan untuk mengukur korosi pada tulangan beton ini dapat menggunakan rebar corrosion detection

4. Proses pembuatan yang kurang baik

Banyak sekali penyebab  crack depth dan crack width  yang terjadi pada beton disebabkan oleh proses pembuatan yang kurang baik. Seperti contoh pada saat beton mengalami perkerasan dimana banyak mengeluarkan air, maka perlu adanya perawatan pada beton agar pengeluaran air dari campuran beton tidak berlebihan. Tetapi akibat tidak adanya perawatan, sehingga pada sat beton terbentuk banyak terjadi retakan.

 

B. Penyebab crack depth dan crack width Beton Yang Terjadi Setelah Beton Selesai

 

1. Pengaruh lingkungan

Karena beton pada bangunan mengalami kontak langsung dengan cuca luar. Sehingga bangunan sipil yang berumur cukup lama banyak mengalami  crack depth dan crack width Salah satu pengaruh lingkungan yang menyebabkan beton retak adalah akibat dari air hujan. Akibat sekian lama beton pada bangunan tua menerima air hujan secara langsung, lama – kelamaan air hujan masuk meresap kedalam beton yang kemudian mencapai tulangan pada beton. Apabila saat air hujan telah mengenai baja tulangan, maka akan terjadi reaksi antara baja tulangan dengan tulangan yang menyebakan baja tulangan menjadi korosi. Akibat korosinya baja tulangan beton akan mengalami retak – retak, makanya pengujian korosi dan penggunaan  rebar corrosion detection sangat diperlukan. 

2. Pembebanan

Setelah beton sudah jadi dan bangunan sipil telah siap untuk dipakai. Maka beton tersebut akan menerima beban – beban. Apabila beton menerima beban sesuai dengan kapasitas kekutannya, beton akan baik – baik saja. Tetapi kadangkala beton akan menerima beban diluar kemapuannya untuk menahan beban tersebut, sehingga  crack depth dan crack width pada beton pun tidak bisa di hindari.

 

 

Sumber : diambil dari berbagai informasi di internet.




Produk Terkait dengan artikel Crack depth dan crack width sebagai pengukur keretakan beton


 


NEWSLETTER

 

TESTIMONIALS

B2TKS

B2TKS
Sangat jarang perusahaan seperti ini di Indonesia!  Mereka terus-menerus mengikuti perkembangan inovasi engineering test & measurement, “nyambung” berdiskusi teknis dan berpengalaman, memiliki visi pengembangan teknologi pengukuran, pengujian, inspeksi dan monitoring.(Dr.-Ing. Ir. May Isnan - NDT Specialist B2TKS-BPPT)

Chevron

Chevron
Tim kerja Alat Uji dapat diandalkan. Sangat bagus dalam implementasi di lapangan. Secara umum kami puas dengan services nya!(Andre - HSE Chevron)

BPPT

BPPT
Saya baru sekali ini bertemu perusahaan engineering yang eksis seperti ini di Indonesia.  Sangat terbantu dengan solusi yang diberikan, sangat memuaskan!(Muksin Saleh, ST., MT - Fuel Conversion and Pollution Control Specialist, B2TE - BPPT)

BALITBANG

BALITBANG
Sistem monitoring yang disuplai oleh Alat Uji adalah yang tertinggi ratingnya sampai dengan saat ini dibandingkan sistem lain yang pernah kami miliki, Dengan sistem monitoring dari Alat Uji, Pengujian kami jadi lebih terkontrol karena ada visualisasi di sistemnya. (Gatot Sukmara - Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum)

 
Alat Uji Alat Uji Alat Uji Alat Uji Alat Uji Alat Uji