• sales@alatuji.com

     

  • 021 8690 6777
    021 8690 6771
  • 0816 1740 8927
    0817 6700 726
  • Pin: 2856BC08
    New PIN : 5A357BF9
  • 0816 1740 8925
    0812 8006 9024
    0812 9595 7914
  • 0813 1066 1358
    0812 9595 7914

Fotografer Profesional ? Sudah Punyakan Anda Alat ini ? - Light Meter

Senin, 18 Desember 2017

Light Meter adalah alat yang dipakai untuk mengukur jumlah cahaya yang masuk. dengan membandingkan dengan ASA, aperture dan shutter speed yang digunakan, maka Light Meter dapat menentukan cahaya yang masuk, sudah “pas”, “under” (kurang) atau “over” (lebih). Di Dunia fotografi, pengukur cahaya difungsikan untuk menentukan pembukaan. Diberikan kecepatan film dan kecepatan rana, alat ini menunjukkan f-stop yang akan memberikan sebuah pembukaan yang netral.

 

Terdapat 2 jenis lightmeter, yaitu Reflected lightmeter dan Incident lightmeter.

- Reflected Lightmeter

Reflected lightmeter adalah sebagai sistem pengukuran cahaya di dalam sebuah kamera serta bisa diaktifkan pada lightmeter eksternal. Lightmeter akan melakukan penghitungan cahaya yang telah dipantulkan oleh subjek serta akan memilih sebuah setting exposure kamera (aperture, shutter speed dan ISO) agar supaya tonalnya menjadi 18% abu-abu atau gray.



Pada kamera, cara mengaktifkannya hanya cukup menekan setengah pada tombol shutter, sedangkan pada lightmeter eksternal seperti bidik, Sekonic atau mengarahkan ke daerah midtone atau area yang sedang (midtone terang dan gelapnya). Serta pada layar LCD akan memperlihatkan setting exposure yang termasuk f-stop yang akan direkomendasikan agar dipakai.

 

2. Incident lightmeter
Cara menghitung cahaya yang jatuh atau tertangkap pada subjek foto, menggunakn mode incident lightmeter akan lebih akurat karena akan mengukur langsung kuantitas cahaya yang jatuh pada subjek, melainkan bukan yang dipantulkan. Untuk Cara menggunakannya adalah dengan meletakkanya ke arah subjek foto serta mengarahkan kubah putih pada lightmeter agar menghadap arah cahaya kemudian menekan tombol pada lightmeter.

 

Dikenal juga beberapa teknik yang digunakan oleh light meter, yaitu:
- Spot Metering
- Avarage Metering
- Center-weighted Metering
- Matrix Metering / Mode Evaluative

 

Spot Metering : Spot Metering digunakan untuk mendapatkan detail tertentu secara maksimal Bagian yang diabaikan mendapatkan pengukuran yang salah sehingga detailnya akan menghilang.

 

Avarage Metering :Avarage metering akan membuat pengukuran rata-rata dari setiap bagian sehingga gambar yang dihasilkan hanya memberikan detail rata-rata dari keseluruhan objek.

 

Center-weighted Metering :Mode center-weighted metering mengandalkan pengukuran dari banyak area sensor, namun lebih memprioritaskan pengukuran pada bidang tengah foto, kurang lebih sekitar 75% dari bidang foto dan tidak terlalu memperhitungkan pengukuran cahaya di luar area tersebut itu.

 

Matrix Metering :Kamera akan menentukan exposure berdasarkan rata-rata pengukuran cahaya di semua bidang foto. Jadi, kamera akan menganggap cahaya pada semua bidang foto mempunyai prioritas yang sama penting.Semua data dari masing-masing sensor kemudian diolah/dirata-rata oleh kamera yang kemudian menjadi dasar penentuan exposure.

 

Setiap kamera memiliki cara penunjukan light meter yang berbeda-beda. akan tetapi dapat dikategorikan pada 3 golongan :

1. + O -
Ini adalah cara yang paling umum menunjukan cahaya yang masuk. “+” menunjukan jumlah cahaya yang masuk terlalu banyak (over), “O” menunjukan jumlah cahaya yang masuk sudah pas, “-” menunjukan jumlah cahaya yang masuk kurang (under). untuk beberapa kamera, tanda “+” diganti dengan segitiga ke atas, dan tanda “-” diganti dengan segitiga ke bawah.

2. (-2)–(-1)–O–(+1)–(+2)
Dibawah ini ada titik (dot) yang bergerak2 sesuai dengan arah over atau under. (+1) dan (+2) menunjukan bahwa cahaya yang masuk over 1 stop dan 2 stop. sebaliknya, (-1) menunjukan bahwa cahaya yang masuk under 1 stop. “-” (strip) menunjukan lompatan 1/3 stop.

3. Penunjukan speed / aperture
Begitu light meter diaktifkan, akan ada lampu (atau jarum) yang menunjukan speed / aperture yang sebaiknya digunakan. Apabila speed kita lebih cepat daripada speed yang direkomendasikan, maka hasilnya akan under. Sebaliknya, kalo speed kita lebih lambat dari pada speed yang direkomendasikan, maka hasilnya akan over.

 

Contoh:

Misalkan kita ingin memotret mobil yang sedang bergerak, kita ingin membekukan mobil tersebut. Maka, speed kita tetapkan di 500. Baru setelah itu kita mencari aperture yang pas dengan setting speed 500 tersebut. Pada banyak kamera modern, proses ini dapat dihitung secara otomatis oleh prosesor kamera dengan memilih mode “Speed Priority” atau biasanya memakai simbol “S”.





NEWSLETTER

 
 

TESTIMONIALS

B2TKS

B2TKS
Sangat jarang perusahaan seperti ini di Indonesia!  Mereka terus-menerus mengikuti perkembangan inovasi engineering test & measurement, “nyambung” berdiskusi teknis dan berpengalaman, memiliki visi pengembangan teknologi pengukuran, pengujian, inspeksi dan monitoring.(Dr.-Ing. Ir. May Isnan - NDT Specialist B2TKS-BPPT)

Chevron

Chevron
Tim kerja Alat Uji dapat diandalkan. Sangat bagus dalam implementasi di lapangan. Secara umum kami puas dengan services nya!(Andre - HSE Chevron)

BPPT

BPPT
Saya baru sekali ini bertemu perusahaan engineering yang eksis seperti ini di Indonesia.  Sangat terbantu dengan solusi yang diberikan, sangat memuaskan!(Muksin Saleh, ST., MT - Fuel Conversion and Pollution Control Specialist, B2TE - BPPT)

BALITBANG

BALITBANG
Sistem monitoring yang disuplai oleh Alat Uji adalah yang tertinggi ratingnya sampai dengan saat ini dibandingkan sistem lain yang pernah kami miliki, Dengan sistem monitoring dari Alat Uji, Pengujian kami jadi lebih terkontrol karena ada visualisasi di sistemnya. (Gatot Sukmara - Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum)