Seketika sarapan saya sempat terhenti, mendengarkan dengan seksama berita pagi yang satu ini, “ Jembatan Kutai Kartanegara roboh “ beberapa orang masih di jembatan saat kejadian sehingga dipastikan akan banyak korban yang tewas dalam kejadian ini. dan info terkini menyebutkan 4 orang tewas, puluhan orang luka luka.
Jembatan Kutai Kartanegara
Jembatan kutai kartanegara merupakan jembatan gantung terpanjang di Indonesia, jembatan ini melintasi sungai Mahakam dengan panjang 710 meter dan menghubungkan antara kota tenggarong dengan tenggarong seberang yang menuju kota samarinda. Jembatan ini juaga sering sdisebut dengan jembatan Mahakam II karena jembatan ini merupakan jembatan kedua yang dibangun melintasi Sungai Mahakam setelah Jembatan Mahakam di Samarinda.
Jembatan ini juga merupakan akses menuju Samarinda ataupun sebaliknya yang dapat ditempuh hanya sekitar 30 menit. Melewati Jembatan Kutai Kartanegara ada pemandangan menarik yang dapat disaksikan, yaitu hamparan sebuah pulau kecil yang memisahkan Tenggarong dan Kecamatan Tenggarong Seberang, yaitu Pulau Kumala, sebuah pulau yang telah disulap menjadi Kawasan Wisata Rekreasi yang banyak diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sepertinya baru kemarin rasanya membicarakan masalah bridges structural health monitoring system dengan senior saya, terkait dengan pengalamannya saat instalasi sensor untuk stuctural health monitoring pada jembatan suramadu, dijelaskan bahwa penerapan monitoring pada jembatan ini sudah diaplikasikan di negara negara maju, hal tersebut dilakukan untuk menghindari serangkain masalah yang komplek yang akan terjadi pada jembatan, dan salah satunya adalah menghindari kejadian seperti di jembatan tenggarong yang runtuh pada tanggal 26 november 2011 kemarin.
Pentingnya system monitoring ini seharusnya menjadi dasar dalam menentukan standarisasi pembangunan jembatan, sebagaimana kita ketahui jembatan kutai kartaegara yang roboh adalah sebagian kecil dari jumlah jembatan yang ada diindonesia, coba kita bayangkan, Jakarta saja, ada berapa banyak fly over atau jembatan layang yang ada, tentunya kita memerlukan sebuah parameter untuk mengetahui gejala gejala jembatan yang tidak sehat, dengan data tersebut tentunya dapat diambil tindakan yang konkrit nantinya. Jembatan kutai kartanegara termasuk jembatan yang belum tua baru 10 tahun berdiri namun runtuh akibat sesuatu yang belum diketahui dan lebih parahnya kejadian tersebut terjadi disaat masyarakat masih berkatifitas.
Ternyata dalam ilmu sipil teknik permasalahan seperti fenomena alam dan kejadian yang tidak diinginkan sudah diperhitungkan sebelumnya, Salah satu expertise ini adalah testindo.com, yang kebetulan satu-satunya perusahaan yang terlibat dalam instrumentasi dan sensor pada jembatan suramadu yang mampu mengimplementasikan structural health monitoring pada jembatan. Atau lebih familiar disebut dengan bridges structural health monitoring system. Adapun beberapa parameter yang menjadi acuannya adalah sbb :
- Local strain analysis, compare to finite element methods (FEM), vibration strain
- Macrostrain analysis, compare to FEM, vibration deformations
- Joint openings, existing crack opening
- Differential settlement between columns or foundations
- Global or local tilt
- Differential settlement, roof deflection
- Modal analysis, wind / seismic induced vibration
- Cable / Stay forces, reaction forces
- Steel / Concrete temperature
- Concrete corrosion & humidity
- Wind, air temperature, precipitation
- Building images, construction progress
gambar gambar jembatan roboh
![]() |
![]() |
|
|
![]() |
Mudah-mudahan kejadian seperti gambar gambar diatas dapat menjadi acuan bagi instansi terkait untuk lebih menerapkan keselamatan masyarakat dengan menerapkan aplikasi monitoring jembatan ini sehingga dikemudian hari kejadian tersebut tidak terjadi dan gejala gejala yang menyebabkan kerusakan dapat terdeteksi dan di cegah secara dini.
sumber foto diambil dari berabagi sumber di internet


.jpg)







