• sales@alatuji.com

     

  • 021 8690 6777
    021 8690 6771
  • 0816 1740 8927
    0817 6700 726
  • Pin: 2856BC08
    New PIN : 5A357BF9
  • 0816 1740 8925
    0812 8006 9024
    0812 9595 7914
  • 0813 1066 1358
    0812 9595 7914

Fotografer Harus Punya Alat Ini (Light Meter)

Rabu, 21 Februari 2018

Light Meter

Cara menjadi fotografer handal memang tidak mudah, diperlukan waktu dan latihan dalam mengasah kemampuan teknik memotret dan tahapan editing foto. Apa itu fotografer ?Fotografer adalah orang yang memegang kendali dalam aktivitas fotografi

 


Fotografi adalah proses pengambilan foto atau gambar cahaya menggunakan media cahaya dari suatu objek dengan merekam pantulan cahaya mengenai obyek tersebut pada media yang peka cahaya dengan alat menangkap cahaya yang terkenal dengan nama kamera.
Prinsip fotografi adalah memokuskan cahaya dengan cara pembiasan sehingga mampu membakar objek penangkap cahaya dan akan menghasilkan bayangan yang disebut lensa.

 


Untuk menghasilkan foto yang baik fotografer harus didukung dengan alat-alat yang mendukung dalam proses pemotretan, salah satunya adalah media pencahayaan. Dalam fotografi cahaya sesuatu yang penting dalam fotografi karena cahaya menjadi syarat terbentuknya sebuah foto, tak peduli apakah cahaya itu sangat redup (misal api lilin) atau sangat kuat (seperti matahari atau lampu studio). Tapi kalau tidak ada cahaya, maka foto yang kita dapat hanya akan hitam total saja. Proses mengukur cahaya tentunya dilakukan sebelum memotret, supaya kita (atau kamera) tahu seberapa kuat cahaya yang ada, dan berapa setting eksposur yang sebaiknya dipakai.

 


Banyak teknik teknik fotografi yang di gunakan oleh fotografer salah satunya adalah teknik metering. Dalam dunia fotografi istilah metering adalah proses mengukur pencahayaan agar menghasilkan foto yang baik. apa itu metering? Sebagai praktik letakkan tiga buah baju masing-masing dengan warna putih, hitam dan satu baju berwarna lain berdekatan. Setelah dilakukan metering pada ketiga baju tersebut maka akan tampak hasil kecerahan foto yang berbeda. Mengapa hasilnya bisa berbeda padahal sumber cahayanya sama?

 

 

Baju hitam cenderung memberi speed lambat dari perhitungan metering-nya, sedangkan baju putih sebaliknya. lightmeter mengukur “kecerahan” apa pun untuk dijadikan gray 18 persen di foto nantinya. Itu prinsip utama metering. Gray 18 persen adalah abu-abu dengan kepekatan optis 18 persen. Anda bisa beli graycard 18 persen di toko foto.

 


Pertanyaannya mengapa 18 persen ?. Jadi sebenarnya kita bisa mengukur ke kulit manusia dalam setiap pemotretan dengan standar kulit orang Eropa. Untuk kulit Melayu (yang umumnya lebih gelap daripada bule), Anda bisa mengkompensasi metering nya dengan MINUS agar sesuai. Dan untuk kulit yang sangat putih kompesasikan ke PLUS. Jadi rumusnya :
• Kompensasi MINUS dalam metering, jika rata-rata kecerahan yang Anda potret kira-kira lebih gelap daripada gray 18%.
• Kompensasi PLUS, jika area yang Anda potret “rasanya” lebih terang daripada gray18%.



Memotret secara umum melakukan metering dari pantulan cahaya yang kembali ke kamera. Tapi pengukuran metering terbaik adalah dengan mengukur cahaya langsung dari sumbernya dengan light meter terpisah. Apa itu light meter ?

 

Light Meter adalah alat yang dipakai untuk mengukur jumlah cahaya yang masuk. dengan membandingkan dengan ASA, aperture dan shutter speed yang digunakan, maka Light Meter dapat menentukan cahaya yang masuk, sudah “pas”, “under” (kurang) atau “over” (lebih). Di Dunia fotografi, pengukur cahaya difungsikan untuk menentukan pembukaan. Diberikan kecepatan film dan kecepatan rana, alat ini menunjukkan f-stop yang akan memberikan sebuah pembukaan yang netral.
Light meter terdiri dari dua macam yaitu internal dan eksternal. Light meter internal biasanya telah terdapat pada kamera modern saat ini yang bisadilihat di LCD dan view finder, sedangkan light meter eksternal digunakan sebagai alat tambahan dan pendukung.

 

 

Dengan adanya fasilitas light meter ini Anda tidak perlu lagi menebak-nebak kombinasi dari bukaan diafragma dan shutter speed yang tepat untuk ‘mengisi’ film atau sensor dengan cahaya. Pada intinya light meter fungsinya ibarat meteran yang mengukur intensitas cahaya yang akan jatuh mengenai sensor atau film melalui diafragma yang memudahkan fotografer untuk mencari keseimbangan pencahayaan.

 

Secara umum light meter terdiri dari dua jenis pengukuran, Reflected light meter dan Incident light meter. Reflected light meter adalah cahaya yang dipantulkan oleh subyek, sedangkan Incident light meter adalah cahaya yang jatuh ke subyek.

 

1. Reflected light meter

 

Seperti namanya (reflected), light meter akan menghitung cahaya yang dipantulkan oleh subjek dan memilih setting exposure kamera (aperture, shutter speed dan ISO) supaya tonalnya 18% abu-abu (gray).

Di kamera, untuk mengaktifkannya cukup menekan setengah tombol shutter. Di light meter eksternal seperti Sekonic, bidik atau arahkan alat ke daerah midtone (area yang sedang/midtone gelap-terangnya), dan layar LCD akan menunjukkan setting exposure termasuk f-stop yang direkomendasikan untuk dipakai.

Masalah yang timbul dari reflected light meter mode adalah light meter bisa salah jika yang subjek foto terlalu banyak bidang putih atau hitam. Bidang putih akan memantulkan terlalu banyak cahaya sehingga foto akhir menjadi agak gelap/abu-abu. Sedangkan jika yang subjek berwarna hitam, maka hasil akhir foto bisa menjadi abu-abu juga alias terlalu terang.

2. Incident light meter

 

Untuk menghitung cahaya yang jatuh ke subjek foto, incident light meter mode lebih akurat karena mengukur langsung kuantitas cahaya yang jatuh ke subjek, bukan yang dipantulkan.

Cara memakainya yaitu menempatkannya ke subjek foto dan mengarahkan kubah putih light meter menghadap arah cahaya lalu menekan tombol pada light meter.

Jika arah cahaya dari samping yang menerangi subjek foto, arahkan kubah ke arah lensa untuk mendapatkan perhitungan f-stop yang akurat. Setting F-stop yang tepat akan terlihat di layar LCD.

Tipe incident light meter baik untuk foto portrait dengan flash, untuk mengukur perbedaan exposure dari cahaya utama (main) dan pengisi (fill).

 

Namun bagi anda pemula terdapat cara termudah dan efektif dalam mencari keseimbangan cahaya, yaitu dengan cara membuka difragma sebesar-besarnya kemudian mencari waktu yang diperlukan untuk mengubah-ubah shutter speed hingga tercapai keseimbangan pencahayaan. Kelebihan cara ini adalah mendapatkan shutter speed maksimal yang mencegah goyangnya kamera agar tidak mempengaruhi hasil foto.

 


Untuk mendapatkan hasil foto yang bagus haruslah didukung oleh metode/tekhnik dan ilmu tools sebagai contoh ilmu metering. Tentunya kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Teknik foto tinggi yang dimiliki oleh seorang fotografer belum tentu menghasilkan gambar yang baik tanpa menggunakan ilmu metering yang benar. Begitu juga sebaliknya lightmeter mahal yang digunakan oleh seorang fotografer tidak akan mengasilkan gambar yang bagus jika memotret objek dengan model membelakangi cahaya atau kembang api.

 





NEWSLETTER

 
 

TESTIMONIALS

B2TKS

B2TKS
Sangat jarang perusahaan seperti ini di Indonesia!  Mereka terus-menerus mengikuti perkembangan inovasi engineering test & measurement, “nyambung” berdiskusi teknis dan berpengalaman, memiliki visi pengembangan teknologi pengukuran, pengujian, inspeksi dan monitoring.(Dr.-Ing. Ir. May Isnan - NDT Specialist B2TKS-BPPT)

Chevron

Chevron
Tim kerja Alat Uji dapat diandalkan. Sangat bagus dalam implementasi di lapangan. Secara umum kami puas dengan services nya!(Andre - HSE Chevron)

BPPT

BPPT
Saya baru sekali ini bertemu perusahaan engineering yang eksis seperti ini di Indonesia.  Sangat terbantu dengan solusi yang diberikan, sangat memuaskan!(Muksin Saleh, ST., MT - Fuel Conversion and Pollution Control Specialist, B2TE - BPPT)

BALITBANG

BALITBANG
Sistem monitoring yang disuplai oleh Alat Uji adalah yang tertinggi ratingnya sampai dengan saat ini dibandingkan sistem lain yang pernah kami miliki, Dengan sistem monitoring dari Alat Uji, Pengujian kami jadi lebih terkontrol karena ada visualisasi di sistemnya. (Gatot Sukmara - Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pekerjaan Umum)